KARYA AA.NAVIS
A.DESKRIPSI DATA
a.
Biografi AA.NAVIS
Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor.
b.
Sinopsis data
Dalam jodoh, dikisahkan seorang
laki-laki bernama Badri. Oleh karena idealismenya yang berlebihan dalam
lapangan sosial dan kebudayaan membuat ia belum berani untuk menikah, walaupun
usianya sudah beranjak 30 tahun. Ada 3 halangan yang membuat Badri tidak mudah
untuk mencari seorang istri. Pertama: Badri menginginkan gadis yang tinggi
semampai untuk memperbaiki keturunannya, di mana hal itu tidak mudah ditemui
dalam masyarakat yang berbakat pendek. Kedua: Badri berdarah campuran yang
dianggap kurang bermutu oleh masyarakat Minangkabau yang lebih suka perkawinan
di antara suku mereka. Ketiga: kalkulasi biaya hidup setelah menikah..
Diliputi oleh berbagai
pertimbangan membuat Badri sangat berhati-hati menentukan calon istrinya. Badri
kemudian menghubungi rubrik kontak jodoh. Dari sana ia terpikat oleh seorang
wanita dan mereka berjanji untuk bertemu. Alangkah kagetnya Badri ketika
mengetahui wanita itu adalah Lena, gadis manis yang pernah dikencaninya.
Singkat cerita mereka menikah dan Badri tinggal di rumah mertuanya. Ketika anak
keduanya lahir, Badri menganjurkan istrinya untuk berhenti menjadi guru.
Ternyata, kekhawatirannya dahulu tidak beralasan. Navis menyatakannya seperti
ini:
“Pola hidup matrilini yang tidak
disukai Badri ketika masa perjakanya, ternyata demikian indah dalam
kenyataannya. …..Karena seni hidup ternyata bukanlah perhitungan yang eksak,
melainkan dengan upaya penyesuaian diri pada iklim yang membentuk masyarakat.
Dan idealisme masa perjaka ternyata suatu utopia semata, yaitu idealisme yang
membius orang-orang yang tidak punya beban hidup keluarga. Idealisme seorang
laki-laki yang telah menjadi suami dan menjadi seorang ayah, ialah idealisme
yang abadi, yakni bagaimana caranya membahagiakan istri dan anak-anak.”
B.ANALISIS DATA
1.Struktur cerpen
a)
Alur
Alur adalah Pengertian
serta Unsur-Unsur Intrinsik Alur
adalah suatu pola pengembangan cerita yang terbentuk dengan hubungan
sebab-akibat. Intisari alur terdapat pada permasalahan cerita.
namun tetapi, suatu permasalahan didalam novel itu tidak
dapat dipaparkan begitu saja; jadi harus terdapat dasarnya.
Rangkaian
peristiwa tersebut sebagai berikut :
1.
Badri adalah seorang lelaki yang
sudah telat nikah
2.
Ada tiga hal yang membuat badri
belum siap untuk menikah
3.
Badri sangat memperdulikan
perhitungan keuangan keluarga apalagi terkhusus pada pengeluaran
4.
Badri berpikir salah satu jalan
kelaur supaya ia mau nikah yaitu kawin dengan seorang gadis yang punya
pekerjaan pegawa negri
5.
Badri terus memikirkan gadis 60cm
itu apakah ada
6.
Badri menemukan gadis yang lebih
muda tiga tahun darinya bernama Lena
7.
Badri mengajak lena nonton film
8.
Badri berniat untuk bermain kerumah
lena
9.
Tetapi malah mendapatkan suatu
permasalah
10.
Lena tidak ingin lagi berteman
dengan badri
11.
Rosni menjadi suatu permasalahan yang harus
dihindari oleh badri karena lenan menganggap badri berpacaran dengan rosin
12.
Badripun berusaha untuk selalu mengelak
bertemu dengan rosni
13.
Kabar bahagia yang didapatkan oleh telinga
badri bahwa Sirosni sudah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya
14.
Sementara silena semakin menjauhkan diri dari
badri sampai-sampai bertemu mukapun lena membuangkan mukanya ketempat lain
15.
Badri merasa sangat bersalah
16.
Lima hari lagi adalah hari ulang
tahun badri yang ke tiga puluh dan iapin menekankan dirinya diusia itudia harus
sudah menikah
17.
Kontak biro jodohlah satu-satunya
pikiran yang terlintas dalam pikiran badri saat itu
18.
Badri mendapatkan pasangan yang
sesuai tanpa belum lihat wajah sang perempuan
19.
Badri dan lenapun bertemu disebuah
toko
20.
Lena menjauhkan diri ternyata orang yang ingin
dijumpainya adalah badri
21.
Sibadri langsung mengejar lena
22.
Akhirnya mereka berduapun menikah
dengan pesta yang mewah
b)
Latar
Latar
(setting) adalah suatu tempat, waktu, serta juga suasana terjadinya
perbuatan tokoh atau juga peristiwa yang dialami tokoh. Didalam cerpen, novel,
maupun bentuk prosa lainnya, terkadang biasanya tidak disebutkan dengan
secara jelas latar perbuatan tokoh tersebut.
1.Latar
tempat
-
Dirumah mertua badri
Terdapat dalam kutipan cerpen dibawah ini :
“Mereka kawin dengan pesta yang meriah dan upacara adat yan
tradisional Dan semenjak, itu Badri
tinggal di rumah mertuanya”.
-
Di sebuah toko
Terdapat dalam kutipan cerpen dibawah ini :
“Tapi,
lima hari menjelang pertemuan pertama setelah kontak surat berlangsung,
merupakan hari-hari yang terpanjang yang sangat menyesakkan napasnya.
Mereka akan bertemu di depan Toko
Lima pada jam lima sore”.
2.Latar
waktu
-
Siang
c)
Penokohan
-
Badri sebagai lelaki yang mencari jodoh dengan banyaak
criteria sehingga nikah diusia yang sangat sudah mapan.
-
Lena sebagai perempuan yang juga lambat nikah sehingganya
mencari jodoh lewat kontak perjodohan
d)
Tema
Tema
adalah suatu inti atau juga ide pokok didalam suatu cerita. Tema
adalah suatu awal tolak pengarang dalam menyampaikan suatu cerita. Tema
suatu novel tersebut menyangkut segala persoalan didalam kehidupan manusia,
baik itu dari masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan lain-lain.
Tema
yang terdapat dalam cerpen yang berjudul JODOH adalah “pernikahan yang
berujungkan kebahagiaan tanpa menyibukan diri untuk selalu memotivasi untuk
mencari pasangan yang ideal”.
Lampiran 1, OBJEK PENELITIAN
JODOH
Bila
jumlah wanita lebih banyak dari pria pada zaman lapangan kerja
menyempit
hingga pengangguran berlimpahan, tidaklah sulit memeroleh seorang gadis untuk
dijadikan istri. Terutama gadis yang telah berusia dua puluh lima tahun lebih.
Sebab, masyarakat masih memandang mereka sebagai oknum yang menggelisahkan
keluarga. Akibatnya, jejaka yang berusia sekitar tiga puluh tahun dan punya
pekerjaan , seperti Badri, jika mau mengacungkan telunjuknya kepada gadis-gadis
itu, jadilah ia istrinya.
Beberapa
bulan lagi Badri akan genap tiga puluh tahun. Dibandingkan dengan angkatannya,
ia dipandang sudah terlambat memeroleh istri. Bukan karena telunjuk bengkok
ataupun kompong, melainkan karena idealismenya yang meluap-luap dalam lapangan
sosial dan kebudayaan.Ketika ia menyadari bahwa perjuangan takkan selesai meski
ia hidup terus sebagai jejaka, untuk memperoleh seorang tidaklah begitu mudah
baginya. Ada tiga macam halangan yang tak begitu mudah ditembus akal sehatnya.
Demi turunannya, agar generasi muda mendatang tidak lagi pendek-pendek
tubuhnya, ia merindukan seorang gadis yang tinggi semampai.
Dan
itu tidak mudah ditemuinya dalam masyarakat yang berbakat pendek.
Halangan
lainnya karena Badri berdarah campuran yang dianggap kurang bermutu menurut
pandangan adat Minangkabau yang lebih menyukai perkawinan awak sama awak.
Halangan lain ialah kalkulasi biaya hidup yang takkan klop lagi bila ia nikah.
Menurut
kalkulasinya, setelah membayar uang makan dan sewa kamar
serta
hutang-hutang rokoknya, sehabis tanggal lima belas habis pulalah seluruh isi
kantongnya. Tentu saja logikanya, kalau ia sudah hidup berdua dengan istrinya maka
mulai tanggal satu tentunya kantongnya sudah akan bolong. Meski logika itu
tidak seluruhnya benar. Karena menurut kalkulasinya yang lebih cermat, jumlah gajinya
akan dapat memberi makan seorang lagi, berikut membeli sepasang pakaian
istrinya sekali setahun. Akan tetapi merokok harus dihentikan. Dan menonton
film hanya akan dapat dilakukan sekali sebulan.dan itu tidak soal berat.Yang
terberat ialah jika ia memikirkan konsekuensi perkawinan. Istrinya tentu akan
hamil dan melahirkan anak. Menurut penelitiannya, ongkos periksa sekali wanita
hamil sama dengan dua hari gajinya. Biaya bersalin akan menelan gajinya sebulan.
Belum lagi kalau dihitung pengeluaran untuk membeli perangkat bayi mulai popok,
gurit, dan tempat tidur mungil. Kesimpulan Badri, ia tidak bisa nikah untuk
selama-lamanya. Terkecuali bila ia ingin bertingkah laku seperti rekan rekannya
yang lain. Atau seperti Pak Mudo, pesuruh kantor yang mau melaksanakan
pekerjaan apa saja yang diminta orang di luar tugas-tugas kantor dan untuk itu
ia mendapat imbalan macam-macam, sehingga dapat memberi nafkah istri dan kelima
anak-anaknya. Jalan keluar yang lain, menurut pikiran Badri ialah kawin dengan
seorang gadis yang punya pekerjaan. Yang lebih baik ialah kalau yang jadi
pegawai negeri. Sebab pegawai negeri lebih banyak mempunyai keringanan tugas
dibandingkan dengan pegawai swasta. Pegawai negeri yang terbaik untuk dijadikan
istri ialah guru sekolah. Karena guru sudah terlatih dengan hidup yang sangat
sederhana.
Akan
adakah seorang gadis yang tingginya 160 centi yang jadi guru sekolah
negeri
dan orang tuanya tidak keberatan pada laki-laki yang berdarah campuran seperti
Badri. Kebetulan ada. Lena namanya. Umurnya lebih muda tiga tahun. Ia gadis yang
menyenangkan untuk dipandangi. Sehingga bagi Badri, waktu terasa begitu cepat
berlalu selagi mereka asyik ngobrol. Tapi setiap Badri mencoba meningkatkan
pershabatan ke arah percintaan dengan mulai mengajaknya keluar malam guna
menonton film, senantiasa ada alasan Lena untuk mengelak. Entah dengan alasan
udara buruk atau filmnya tidak bagus atau badannya yang kurang sehat.
Hanya
sekali Badri berhasil mengajak nonton film. Itu pun karena menemani
adiknya
yang baru datang dari kota lain. Meskipun harapannya tidak penuh
terhadap
gadis itu, pada waktu-waktu tertentu ia selalu mengunjungi Lena. Dan ia selalu
mendapat sambutan yang hangatnya tak pernah menurun.
Akan
tetapi, tibalah satu bencana. Ketika suatu malam Badri bertandang kembali, Lena
tidak membiarkannya masuk. Malah berkata seperti hendak mengusirnya; “Jangan
kemari lagi!” Terpana Badri mendengar ucapan gadis itu. Lebih terpana lagi dia
ketika Lena menyebut nama Rosni, seorang gadis yang sering juga dibawanya
keluar untuk menonton film.
“Aku
tidak serius dengan dia,” kata Badri menangkis.
“Enak
benar jadi laki-laki. Begitu sering membawa seorang gadis keluar
malam,
tapi kalau ditanya oleh gadis yang lain, lalu dibilang aku tidak serius
dengan
dia,” umpat Lena dengan tengiknya. Lalu sebelum Badri memberi alasan, pintu
ditutup dan dikuncinya dari dalam. Tinggalah Badri terperangah di anak tangga.
Dengan
loyo ditinggalkannya rumah Lena sambil mengutuki dirinya sendiri
karena
sering membawa Rosni keluar malam. Padahal gadis itu tidak ideal
baginya.
Meski wajahnya cukup cantik dengan kulitnya yang mulus seperti umbut karena
usianya yang masih muda. Rosni sepuluh senti lebih pendek dari persyaratan
idealnya. Lagi pula terlalu berisi. Tapi yang terutama tidak punya pekerjaan
yang menghasilkan nafkah.
Sejak
itu, Badri kehilangan orang yang paling menyenangkan hatinya. Ia
mulai
menghindari Rosni karena ia tidak mau terlibat terlalu dalam dengan gadis itu.
Ketika Rosni menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, Badri merasa bebas
dari incarannya. Tapi sebaliknya, setiap ia ketemu Lena di mana pun juga,
selalu gadis itu membuang muka.
Beberapa
bulan lagi usianya akan menjadi tiga puluh tahun. Usia yang
cukup
matang untuk menjadi seorang suami menurut pendapatnya. Ia menyadari juga
sekiranya ia tidak terlalu teguh berpegang pada prinsip-prinsip hidupnya, ia akan
dapat kawin pada hari ulang tahunnya itu. Asal dia mau menyesuaikan diri dengan
iklim yang memengaruhi kehidupan masyarakat, soal gaji kecil sebetulnya bukan
alasan untuk menunda perkawinan. Karena dengan bergaji kecil sekalipun, orang
dapat menghidupi lima sampai sepuluh nyawa. Bahkan, cukup banyak rezekinya
sehingga ada di antara mereka yang telah mulai membuat rumah. Badri bukan tidak
tahu cara menambah penghasilan itu. Tapi, pikirnya, kalau tidak mampu
memperbaiki dunia, janganlah ikut serta lebih merusaknya.
Meskipun
ia telah menarik kesimpulan, bahwa laki-laki tidak pernah terlalu
tua
untuk memperoleh jodoh, namun jika ingat pada usianya menjelang tiga
puluh
tahun, timbul juga godaan yang kuat dalam dirinya untuk mencari istri.
Maka
mulailah ia meneliti rubrik Kontak Jodoh yang dimuat sekali seminggu
dalam
satu surat kabar di kota kediamannya. Dicatatnya seluruh gadis yang
mencari
jodoh melaui rubrik itu sejak penerbitan tiga bulan berselang. Catatan itu
diberinya berlajur-lajur seperti pekerjaan, tinggi badan, umur, dan beberapa persyaratannya.
Ia
mernemukan 26 gadis yang ingin mendapat jodoh melalui rubrik itu dan
7
orang janda. Badri lebih tertarik pada gadis. Dan yang terpenting semuanya
mempunyai
pekerjaan. Sembilan belas diantaranya menjadi pegawai negeri. Di antara yang
sembilan belas itu ternyata delapan orang yang menjadi guru. Tapi hanya empat
orang yang mempunyai tinggi seperti yang diinginkan Badri. Kebetulan keempatnya
menyatakan tidak keberatan mendapat jodoh seperti kondisi Badri, yakni bukan
penduduk asli daerah. Untuk memilih salah seorang, Badri menetapkan pilihan pada
gadis yang lebih dahulu mengikuti rubrik itu. Gadis itu berkode AX/19. Maka
segeralah ia menulis surat kepada redaksi untuk membuat kontak. Selama dua
belas hari menunggu balasan merupakan siksa dalam kehidupan Badri. Tapi, lima
hari menjelang pertemuan pertama setelah kontak surat berlangsung, merupakan
hari-hari yang terpanjang yang sangat menyesakkan napasnya.
Mereka
akan bertemu di depan Toko Lima pada jam lima sore. Gadis itu
akan
mengenakan switer kuning dengan rok lembayung sebagai pengenal. Sedang Badri
akan mengenakan baju batik dan pengepit segulungan majalah diikat dengan pita
merah. Badri lebih cepat datang lima menit dari waktu perjanjian, karena takut
kalau sampai terlambat dari waktunya. Satu menit sebelum jam lima ia telah kian
gugup meskipun matanya lirak-lirik mencari-cari gadis yang berswiter kuning.
Persis jam lima ia tak tahan lagi disiksa kegugupan. Lalu ia menyelonong dalam
toko itu dengan maksud akan mengintip kedatangan gadis itu dari dalam toko.
Ketika ia baru saja memasuki ambang pintu toko itu, seorang gadis berswiter kuning
hendak keluar. Mereka saling tertegun dengan matanya sama-sama terbeliak.
Karena gadis itu lena. Tidak lain.
Tapi
belum sempat Badri berpikir, Lena segera terpaling. Kemudian dengan
langkahnya
yang tergesa-gesa berlalu dari situ menyeberangi jalan. Cepat Badri menarik
kesimpulan, bahwa Lena, pastilah jodohnya. Peristiwa itu bukanlah suatu kebetulan,
tapi sudah diatur oleh tali nasib. Lalu dikejarnya gadis itu dengan langkahnya
panjang-panjang. Dan ketika telah dekat digenggamnya lengan gadis itu kuat-kuat
sambil mengiringkan langkahnya.
“Lepaskan
aku,” bentak Lena seraya mencoba membebaskan lengannya
dari
genggaman Badri, “Nanti aku berteriak.”
Dan
Badri tak percaya bahwa gadis itu akan berani berteriak di tengah orang ramai
itu. Lalu katanya: “Berteriaklah.” Di luar dugaannya. Lena betul-betul
berteriak. Orang ramai segera dating merubungi mereka. Nyaris insiden yang
lebih parah berlangsung. Kalau tidak seorang polisi mencegah, pastilah Badri
akan dikeroyok orang banyak. Lalu keduanya dibawa ke gardu polisi terdekat. Di
hadapan polisi yang memeriksa semua kartu dibuka.
“Gila
kau,” kata Lena selesai membaca naskah cerpen yang baru selesai
ditulis
suaminya. “Masa kisah kita mau dibeberkan pada orang banyak?”
Badri
merangkul pinggang istrinya sambil tertawa. Mereka sudah lama
menikah
dan kini telah punya dua orang bayi yang demikian rapat jarak
kelahirannya.
Mereka kawin dengan pesta yang meriah dan upacara adat yan
tradisional
Dan semenjak, itu Badri tinggal di rumah mertuanya, seperti juga suami-suami lainnya
di Minangkabau.
Pola
hidup yang matrilineal yang dulu tidak disukai demikian indah
kenyataannya
setelah memiliki Lena. Kalkulasi biaya hidup yang mencemaskan dulu, ternyata
pula tidak perlu diributkan. Malah ketika anaknya yang kedua lahir, Lena
dianjurkan sendiri untuk berhenti menjadi guru karena seni hidup bukanlah
perhitungan yang eksak, melainkan penyesuaian diri pada iklim yang membentuk
masyarakat. Idealisme masa jejakanya ternyata pula suatu utopia semata.
Idealisme yang membius pada orang-orang yang tidak mempunyai beban hidup
kekerabatan. Sedangkan idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi suami dan
menjadi seorang ayah ialah idealisme abadi, yakni bagaimana membahagiakan istri
dan anak-anak. Dan kalau Badri sesekali membaca surat kabar yang mengisahkan
perjuangan-perjuangan
orang-orang untuk mencapai cita-cita, cepat-cepat Badri menutup surat kabar itu
dan meletakkannya di rak kertas-kertas tua yang akan diloakkan mertuanya.
